[empty]

05 Februari 2009

Antara dua pilihanku

Hari ini tanggal penobatanku menjadi sahib. Aku dihadapkan oleh dua pilihan. Kedua pilihan itu membuatku terpuruk kedalam jurang yang amat dalam tanpa sinar. Harus kah aku kembali bertanya pada sang mesiah di surga sana? Sehingga aku harus menata setiap langkah ku dengan sebenarnya, karena satu noda dalam alasku akan mengabadikan sisi kegelapan sang pecundang. Matiku tidak akan riang bila dia tak pernah aku beri tahukan isi hatiku. Sesuatu yang aku harapkan tak akan pernah terjadi dalam waktu ku yang lalu, terpendam oleh perasaan hampa, menimbunnya dalam-dalam di hatiku. Haruskah aku menjadikanya sebagai keindahaan yang amat sangat mahal, dan, tak mungkin aku beli dengan harga diriku. Tuhan, pemberian mu adalah kepedihanku dalam gelap malam, di iringi nyanyian sendu dari kesunyian.

Sang bunga mawar telah terkurung di dalam hati adikku, bimbang menentukan dua pilihan yang aku pilih. Duri mekar ke dalam hunusannya, menjadikanya bunga mawar merah yang menjadi hitam karena bimbangku kembali bertanya. Aku yang selalu salah. Aku yang sebenarnya lemah ini berharap menjadi satria berbaju jiran yang mengacungkan pedang cinta. “Tak pantaskah aku menjadi manusia yang utuh?” Dua pilihan antara darah dan cinta. sebuah hubungan yang membingungkan aku antara mereka.

Tetapi saat ini aku mengerti keadaan sang mawarku, kekasihku dalan hayal. Keadaanya yang harusnya tak aku dan darahku perburuk, telah menyentuh rohku untuk kembali kepadanya. Aku benci melihat keindahaanya yang baku, keindahan yang menyiksa disisi lain. semua membuatku menjadi lebih iba pada darahku dan mawarku. haruskah aku mengalah secara terhormat, atau merengek sampai aku dapat? Saat mereka bahagia aku merenung, saat dia merenung kami bahagia, saat kita merenung dia bahagia.

Salah satu dari bidadarinya memberi tauku, bahwa aku ada! Terdiam di hamparan padang rumput tenggara, merenung, merasakan kepedihannya. Sedihnya adalah sedihku, bahagianya adalah bahagiaku, jiwanya adalah jiwku. Karena dia adalah bagian dariku

Kini akar bunga mawar merambah kedalam hatiku, mengurungnya dalam cengkraman ketidakjelasan. Aku mengatakan padanya isi dari kotak hampa dalam hati.