[empty]

21 Februari 2009

Pecundang yang patah hati

Keindahan yang aku rasakan adalah bualan yang dia ciptakan demi kebencian, kehancuran yang perlahan mengikuti derap langkah sang pemujanya. Aku jujur pada hatiku, aku tulus mencintainya. Aku tak pernah berniat menyakitinya, dan, aku tak pernah ingin masuk ke dalam kehidupanya! Namun tuhan berkata lain, menobatkan setiap detiku untuk menemuinya. Sehingga hati kecilku berkata akulah pemujanya, penganut aliran yang bernafaskan cinta. Kisahnya membuat seorang pengelana terperosok kedalam permainan hidup seorang dewi. Aku tak pernah menyerah, bahkan aku masih mendambakanya. Tetapi semua telah terlambat, aku telah merasa setiap orang terdekatku membuat aku terpuruk di dalam penjara hatinya. Aku dan saudaraku adala pemuja yang termakan belai kasih palsunya, serta kekasihnya yang lain. "Apa yang harus kulakukan?", "menggenggam nasibku yang terpuruk?, atau mengeraskan hatiku untuk mendapatkanya?".

Aku tak pernah benci padanya, tetapi rasasakitnya telah menggores hatiku, membunuh setiap harapaku. "Tega kah dia?". Cintanya telah beku, sulit untuk mencairkanya, bahkan panasnya api cinta yang membara tak dapat meluluhkannya. Berapakah harga yang harus ku keluarkan demi menjual harga diriku, semua sia-sia. Aku terlanjur mencintainya! Geramku memuncak saat aku mengetahui isi dari dirinya. LUCKAS adalah kekasihnya, bayanganya, raja yang dia puja. Sedangkan aku hanya seorang budak belian yang berharap belas kasihan dari seseorang untuk memungutnya, memeliharanya, mencintainya.

"Apa yang harus aku lakukan lagi saat ini??" Bayangan dia selalu menari di malamku, bayangan wanita jalang yang kau impikan. Ketika Wanita jalang datang di depan mataku.. Apa yg aku rasakan??? hanya ada Kosong. Hampa tak bermakna lagi. Sedih yang aku rasakan hanya terbalut suka cita yang ada di sekelilingku, riangnya menusuk kedalam hati sang cahaya. Terkadang sang cahaya dibutuhkan, dan terkadang mereka melupakan akan sinarnya. Dimana harus aku tumpahkan air mata suci yang tak pernah aku berikan pada alam? harus kah aku kembali mengharapkan dia? atau mati di padang pasir yang tak berujung?? Terkadang kebencian menemaniku dalam angan-angan saat dia hadir.

Musnah semua harapan sang pecundang. Aku berharap semua menjadi tak pernah ada, menjadi lembaran buku yang harus aku bakar dalam tungku harapan. Belai rambutnya bukan lagi untuku lagi, bukan, bukan untuk si pecundang. aku hanya berharap saudaraku tabah dan ikhlas mendapatkan dia! Karena saat ini dia aku persembahan. Aku masih menyimpan harapanku pada Dewi Aprhodite. Apakah dia masih mendengarkanku?? atau aku harus menganggapnya sebagai mitos?? Teriakanku tak pernah sampai padanya, hanya aku yang mendengarkan nya!! Aku tak pernah peduli lagi pada harapanku.

Harapan tak akan bisa lagi muncul dari hatiku. Takdir tak bisa di rubah oleh siapa pun, bahkan tuhan hanaya bisa melihat jalan hidup kita. Kini sakitku di iringi irama kegembiraan, indah meliah sosok panutan bersetubuh dengannya, hening saat aku mengetahuinya. Hampa dalam hidup tak bisa aku isi lagi, kosong, kering tak terurus. Apa yang aku rasakan saat ini? Aku hanya bisa berharap pada tuhan, meminta membunuh diriku perlahan tanpa rasa sakit. Apakah jalan hidupku selalu begini? Sebagian aku rela, namun sebagian aku merasa sakit. Yang aku ingin kan hanya melupakan keindahan, itu saja! Yang aku inginkan mereka tetap bahagia tanpa aku di sana! Tapi kenapa mereka merenung saat aku terjatuh, memandangku penuh belas kasihan dengan sedikit tawa di bibir mereka. Aku harus teriakan kehancuran ini sekarang. Rintihan ku hanya bisa di dengar alam, sepi tiada pendengar lagi! Aku berterima kasih pada kalian, karena kalian telah mewujudkan harapanku.