[empty]

21 Februari 2009

Expresi Kegembiraan

Aku memuat hasil kerjaku kedalam lumbung, kusimpan dalam-dalam dan aku jaga sekuat tenaga. Cinta yang aku petik hari demi hari kini telah berada dalam titik puncak untuk kuberikan padanya, kekasihku. Aku tidak ingin hari yang aku baru mulai telah runtuh seperti kemarin, elegi masa lampau yang aku sia-siakan. Aku sangat menyayanginya lebih dari kata cinta yang selalu kusebut "Kasih".

Semua keadaan membingungkanku, apakah aku sebagai pelampiasan? Ataukah sebagai hiasan? Karena setiap merahnya terdapat dalam hatiku, indahnya tersirat dalam benakku.

Kini dia menerimaku lagi dalam hatinya yang beku. Dia adalah keindahanku, penyejuk di dalam rona hitam kehidupanku. Aku berharap sekali lagi untuk bisa hidup di hadapanya, membahagiakannya, memberinya kenyamanan. Karena aku tulus untuk memberikan segala sesuatu yang aku miliki untuknya.

Dia Yang Tidak Ingin Aku Sebutkan

Hari ini Tanggal 12 Februari. Semua gempuran tuduhan palsu ku yang mereka lempar menghampiriku, telah datang dan menyalahkanku. "Apa yang aku perbuat", setiap detak jantungku mengatakanya, hanya karena aku tidak mengikuti kegiatan hitam mereka, dan aku mengikuti kegiatan hitam dengan kelompok yang mereka kira adalah musuhnya. Perjuangan ku yang aku usahakan demi kaumnya telah terabaikan, hanya karena seorang pemimpin diktator yang tidak mengerti arti kehidupan ku, "apa daya mereka terhadapku, sehingga aku harus menjilat kakinya", benaku berkata dengan lantangnya seruan yang tak pernah mereka dengar. Sang diktator selalu meminta keuntungan dari kerugian kita, kaum pekerja, atau malah memenggal kepala mereka satu persatu? Kebohonganya selalu terbongkar olehku, sedangkan kemunafikanya malah menjalar kepadaku, menghancurkan kerongkongan ku detik demi detik kian pelan. Biarlah dia berkata sepuas dia menentangku, sedangkan aku selalu ada dalam pangkuan ayahku.


Aku kehilangan salah satu pengikutku yg berharga, semua karena hasutannya. Terkadang aku berpikir tak pernah membutuhannya, tetapi aku sadar aku masih membutuhkannya, bagai manapun perasaan bencinya kepadaku aku tetap membutuhkannya.

Saat aku berada dalam gelap

Takdir ku saat berdiri di sisi Tuhan, aku bergeming dengan sekuat tenagaku yang aku kerahkan untuknya yang Maha Terpuja. Namun saat aku sadar bahwa dia yang harus aku lawan, aku terdiam menatap sesuatu yang harus aku terima dengan nasib yang buruk, "kenapa aku begitu bangga terhadap dia?", "haruskah aku membunuh dan membuangnya tanpa rasa iba, atau tetap manjadikanya yang Mulia?". Semua telah aku pertahan dengan apa adanya, aku hanya menyerap energi yang aku anggap baik, dan membuangnya saat menjadi buruk.

Duahi dewi Iystar tolong lah sang penyair yang telah kehausan, dia telah menempuh jalan hidup yang panajang, dengan aral melintang di hari-hari akhirnya, dia menginginkan mati, namun dia tak tega untuk meninggalkan sang kekasih yang tidak pernah tau cintanya. Keburukanya adalah keburukanku, dalihnya adalah nafasku, smua yang dia ceritakan adalah aku. Suara adzan telah memanggilku untuk memujanya, untuk minta padanya, agar semua yang aku harapkan datang tanpa halangan yang menghapus semua kenangannya, aku berdoa dan membaca alkitabku yang lusuh terhantam oleh zaman, zaman dimana saat aku terlahir tanpa rasa benci kepadanya, karena ku kini telah sadar.
Aku tidak pernah mengerti apa yang dia rasakan, dan, aku tidak pernah tau apa arti dari cinta? Yang aku tau hanya ada penyesalan dan duka di dalam hati sang pendosa, apakah dia, dia yang akan aku sunting? atau kah itu hanya kisahku yang telah lalu? Siapa aku? Dari mana asalku? Aku hanya seorang pekerja yang memimpikan dewi menjadi seorang kekasihnya. Sedangkan perebutan antara para petarung di colloseum bertarung untuk mendapatkannya, untuk menjadikan dia sebagai pujaan mereka. Aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan, memandang sang dewi yang terduduk di altar untuk menyaksikan para ptarung. Tak satupun perasaanya yang bisa kutebak, tak seindah apa yang kubayangkan, hanya kalbuku yang bisa menjawab. Sejenak aku benci, namun rasa itu muncul kembali. Semuanya merasuki ragaku, membuatku menjadi seekor keledai, dan harus dia ketahui, aku ini "rapuh". Merasa diriku yang tak pernah memiliki teman hidup, aku terlantar. Aku benci untuk merindukan sang keindaahan kosmik, namun itulah adanya! Oh Tuhan, apakah engkau sadar bahwa cinta telah membuat sang pecundang patah hati dan membuat keindahan para putri.

Mungkin aku harus mengingatnya

Hari-hari yang aku jalani telah menemaiku suka dan duka. Sedihku terobati karenanya, oleh dia yang selalu terlintas di kepalaku, dia selalu kuingat disetiap aliran darahku. Anugerah sang dewi Isytar, keturunan Cleopatra yang aku cintai sepanjang masa. Pertanyaanku adalah, "dapatkah cintaku abadi?", sedangkan dia ada dalam setiap tatapan mataku yang sadar akan keindahannya. Uraian rambutnya, lentik tangannya, menggodaku untuk memiliknya dalam hatiku. Aku terbujur kaku di pebaringanku saat malam, semua karena sosok impianku membasahi otakku yang telah mabuk karenanya. Aku jujur dalam hatiku, aku mencintainya. Tetapi aku tak memiliki banyak kekuatan untuk menampung rasa sayang yang dia berikan padaku, dia memberiku cinta.
Aku adalah seorang titisan Aggripa yang gagah, dan nasibku persis moyangku. Ketika Cesar meninggalkan bumi, keluarganya terpecah. Ibunya mati di eksekusi sang Brutus. Haruskah aku mengenang dia?

Pecundang yang patah hati

Keindahan yang aku rasakan adalah bualan yang dia ciptakan demi kebencian, kehancuran yang perlahan mengikuti derap langkah sang pemujanya. Aku jujur pada hatiku, aku tulus mencintainya. Aku tak pernah berniat menyakitinya, dan, aku tak pernah ingin masuk ke dalam kehidupanya! Namun tuhan berkata lain, menobatkan setiap detiku untuk menemuinya. Sehingga hati kecilku berkata akulah pemujanya, penganut aliran yang bernafaskan cinta. Kisahnya membuat seorang pengelana terperosok kedalam permainan hidup seorang dewi. Aku tak pernah menyerah, bahkan aku masih mendambakanya. Tetapi semua telah terlambat, aku telah merasa setiap orang terdekatku membuat aku terpuruk di dalam penjara hatinya. Aku dan saudaraku adala pemuja yang termakan belai kasih palsunya, serta kekasihnya yang lain. "Apa yang harus kulakukan?", "menggenggam nasibku yang terpuruk?, atau mengeraskan hatiku untuk mendapatkanya?".

Aku tak pernah benci padanya, tetapi rasasakitnya telah menggores hatiku, membunuh setiap harapaku. "Tega kah dia?". Cintanya telah beku, sulit untuk mencairkanya, bahkan panasnya api cinta yang membara tak dapat meluluhkannya. Berapakah harga yang harus ku keluarkan demi menjual harga diriku, semua sia-sia. Aku terlanjur mencintainya! Geramku memuncak saat aku mengetahui isi dari dirinya. LUCKAS adalah kekasihnya, bayanganya, raja yang dia puja. Sedangkan aku hanya seorang budak belian yang berharap belas kasihan dari seseorang untuk memungutnya, memeliharanya, mencintainya.

"Apa yang harus aku lakukan lagi saat ini??" Bayangan dia selalu menari di malamku, bayangan wanita jalang yang kau impikan. Ketika Wanita jalang datang di depan mataku.. Apa yg aku rasakan??? hanya ada Kosong. Hampa tak bermakna lagi. Sedih yang aku rasakan hanya terbalut suka cita yang ada di sekelilingku, riangnya menusuk kedalam hati sang cahaya. Terkadang sang cahaya dibutuhkan, dan terkadang mereka melupakan akan sinarnya. Dimana harus aku tumpahkan air mata suci yang tak pernah aku berikan pada alam? harus kah aku kembali mengharapkan dia? atau mati di padang pasir yang tak berujung?? Terkadang kebencian menemaniku dalam angan-angan saat dia hadir.

Musnah semua harapan sang pecundang. Aku berharap semua menjadi tak pernah ada, menjadi lembaran buku yang harus aku bakar dalam tungku harapan. Belai rambutnya bukan lagi untuku lagi, bukan, bukan untuk si pecundang. aku hanya berharap saudaraku tabah dan ikhlas mendapatkan dia! Karena saat ini dia aku persembahan. Aku masih menyimpan harapanku pada Dewi Aprhodite. Apakah dia masih mendengarkanku?? atau aku harus menganggapnya sebagai mitos?? Teriakanku tak pernah sampai padanya, hanya aku yang mendengarkan nya!! Aku tak pernah peduli lagi pada harapanku.

Harapan tak akan bisa lagi muncul dari hatiku. Takdir tak bisa di rubah oleh siapa pun, bahkan tuhan hanaya bisa melihat jalan hidup kita. Kini sakitku di iringi irama kegembiraan, indah meliah sosok panutan bersetubuh dengannya, hening saat aku mengetahuinya. Hampa dalam hidup tak bisa aku isi lagi, kosong, kering tak terurus. Apa yang aku rasakan saat ini? Aku hanya bisa berharap pada tuhan, meminta membunuh diriku perlahan tanpa rasa sakit. Apakah jalan hidupku selalu begini? Sebagian aku rela, namun sebagian aku merasa sakit. Yang aku ingin kan hanya melupakan keindahan, itu saja! Yang aku inginkan mereka tetap bahagia tanpa aku di sana! Tapi kenapa mereka merenung saat aku terjatuh, memandangku penuh belas kasihan dengan sedikit tawa di bibir mereka. Aku harus teriakan kehancuran ini sekarang. Rintihan ku hanya bisa di dengar alam, sepi tiada pendengar lagi! Aku berterima kasih pada kalian, karena kalian telah mewujudkan harapanku.

17 Februari 2009

Dikala Asap Merenung

Pagi buta menjelang mentari terbit dari persembunyianya, mengingatkan sang pemuda Amharik pada keindahan alamnya. Setelah mereka sadar bagian darinya menghilang dari muka bumi, ibu dari nafanya meregang nyawa anatara hidup dan musnah. Tangisnya membuat suasana buruk baginya, perpecahan bertambah parah. Sakit dari hati ini kian tak terasa menyakitkan, memisahkan kedua penciptaku. Mahluk yang aku kagumi yang kusebut Ayah, sosok yang aku puja setelah aku turun ke dunia. Dan, sang sumber kehidupan yang aku panggil Ibu, menatap matamu aku tau betapa susahnya kau memberiku sebuah kehidupan. Tapi, kini sosok mereka hilang dari hadapanku, sosok keindahan dikala pemuda Amharik kecil.
Melayang anganku, kedalam pangkuan sang ibu yang telah hilang dari hadapan ayah. Aku sejenak merenung untuk menghilangkan rasa yang aku punya.

12 Februari 2009

Persembahanku Untuk Bayanganku

Aku telah meluluhkan hatinya. Aku takan pernah menduga diriku ada dalam hatinya, sedangkan mahluk lain menggodanya. Setiap hembusan nafasku mengenang dia, sebuah cinta yang aku tanam dalam hatinya. Jiwanya membuat setiap pemujanya luluh, terlunta mengenang sang pujaan cinta. haruskah mereka memaksakaan kehendak mereka?? Atau aku herus berperang melawan pengikutnya? sedangkan sang burung tak pernah menginginkan sarangnya, terkekang dalam emosi cinta.
Sekarang aku kekasih bayanganku, dan aku akan persembahkan jiwa ragaku untuknya. Untuk mengisi hidupnya pertama dan terakhir, aku ingin sunting dia. Aku berharap tak pernah meninggalkan dia, selalu disisi bayanganku. Bagian dari tubuhku yang tuhan hempaskan kebumi ini. keindahan tiada tara yang tuhan berikan padaku, benih Hawa yang tuhan berikan untuk aku sunting. "Siren at lara panda" dan aku.
Setiap Orang berbicara cinta. Namun cinta yang aku berikan ini adalah cinta yang berbeda, cinta yang tak pernah bisa ku katakan oleh kata-kata. Hanya kebencian yang mengerti arti dari kata yang aku maksudkan. Garangnya pemuja kekasih alam, membuat aku merasa ada dalam angkara. Apakah dia yang sebenarnya ada dalam hatimu? Semua aku katakan karena aku adalah sebuah pelabuhan usang yang tak pernah disinggahi nelayan. Darah, daging dan tulangku persembahan baginya. Kematian adalah jalan akhir dari kisahnya. Kisah seorang pembual dengan kekasih sejatinya.
Selama aku memiliki keberanian, aku akan menjaganya. Membuat segala raga dan jiwaku menghadang setiap keluhan hati. Aku jalani semua apa adanya, mengalir, nikmati, tanpa bebani hatimu.
Kau dan aku, dalam alam cinta yang baka, suci tanpa noda kemunafikan. Merangkai sebuah kehidupan baru di alam ini. Hanya kau dan aku, ketika rmbulan menampilkan keindahannya. Bawalah aku kesana, dekatkan aku dengannya, wujudkan aku untuknya, bayanganku sang penuai rindu. Tanpa rasa bimbang, ragu. Aku takan hiraukan penghalang yang datang silih berganti, karena semua ini kulakukan hanya untukmu bayanganku. Syair tuhan yang kudengar dari mulutnya membuatku tertidur dalam dekapan lembut khayal. Menumbuhkan benih jiwa dalam setiap relung hidupku, membuat dia memahami diriku. Bayanganku oh bayanganku. Di sampingmu aku tertidur, terbuai oleh wanginya tubuhmu. Wajahmu, mengalir dalam tubuhku, merekatkan setiap liku hidupku. Egoku adalah pelajaran baginya untuk membuatku merasakan cintanya.

05 Februari 2009

Antara dua pilihanku

Hari ini tanggal penobatanku menjadi sahib. Aku dihadapkan oleh dua pilihan. Kedua pilihan itu membuatku terpuruk kedalam jurang yang amat dalam tanpa sinar. Harus kah aku kembali bertanya pada sang mesiah di surga sana? Sehingga aku harus menata setiap langkah ku dengan sebenarnya, karena satu noda dalam alasku akan mengabadikan sisi kegelapan sang pecundang. Matiku tidak akan riang bila dia tak pernah aku beri tahukan isi hatiku. Sesuatu yang aku harapkan tak akan pernah terjadi dalam waktu ku yang lalu, terpendam oleh perasaan hampa, menimbunnya dalam-dalam di hatiku. Haruskah aku menjadikanya sebagai keindahaan yang amat sangat mahal, dan, tak mungkin aku beli dengan harga diriku. Tuhan, pemberian mu adalah kepedihanku dalam gelap malam, di iringi nyanyian sendu dari kesunyian.

Sang bunga mawar telah terkurung di dalam hati adikku, bimbang menentukan dua pilihan yang aku pilih. Duri mekar ke dalam hunusannya, menjadikanya bunga mawar merah yang menjadi hitam karena bimbangku kembali bertanya. Aku yang selalu salah. Aku yang sebenarnya lemah ini berharap menjadi satria berbaju jiran yang mengacungkan pedang cinta. “Tak pantaskah aku menjadi manusia yang utuh?” Dua pilihan antara darah dan cinta. sebuah hubungan yang membingungkan aku antara mereka.

Tetapi saat ini aku mengerti keadaan sang mawarku, kekasihku dalan hayal. Keadaanya yang harusnya tak aku dan darahku perburuk, telah menyentuh rohku untuk kembali kepadanya. Aku benci melihat keindahaanya yang baku, keindahan yang menyiksa disisi lain. semua membuatku menjadi lebih iba pada darahku dan mawarku. haruskah aku mengalah secara terhormat, atau merengek sampai aku dapat? Saat mereka bahagia aku merenung, saat dia merenung kami bahagia, saat kita merenung dia bahagia.

Salah satu dari bidadarinya memberi tauku, bahwa aku ada! Terdiam di hamparan padang rumput tenggara, merenung, merasakan kepedihannya. Sedihnya adalah sedihku, bahagianya adalah bahagiaku, jiwanya adalah jiwku. Karena dia adalah bagian dariku

Kini akar bunga mawar merambah kedalam hatiku, mengurungnya dalam cengkraman ketidakjelasan. Aku mengatakan padanya isi dari kotak hampa dalam hati.