Takdir ku saat berdiri di sisi Tuhan, aku bergeming dengan sekuat tenagaku yang aku kerahkan untuknya yang Maha Terpuja. Namun saat aku sadar bahwa dia yang harus aku lawan, aku terdiam menatap sesuatu yang harus aku terima dengan nasib yang buruk, "kenapa aku begitu bangga terhadap dia?", "haruskah aku membunuh dan membuangnya tanpa rasa iba, atau tetap manjadikanya yang Mulia?". Semua telah aku pertahan dengan apa adanya, aku hanya menyerap energi yang aku anggap baik, dan membuangnya saat menjadi buruk.
Duahi dewi Iystar tolong lah sang penyair yang telah kehausan, dia telah menempuh jalan hidup yang panajang, dengan aral melintang di hari-hari akhirnya, dia menginginkan mati, namun dia tak tega untuk meninggalkan sang kekasih yang tidak pernah tau cintanya. Keburukanya adalah keburukanku, dalihnya adalah nafasku, smua yang dia ceritakan adalah aku. Suara adzan telah memanggilku untuk memujanya, untuk minta padanya, agar semua yang aku harapkan datang tanpa halangan yang menghapus semua kenangannya, aku berdoa dan membaca alkitabku yang lusuh terhantam oleh zaman, zaman dimana saat aku terlahir tanpa rasa benci kepadanya, karena ku kini telah sadar.
Aku tidak pernah mengerti apa yang dia rasakan, dan, aku tidak pernah tau apa arti dari cinta? Yang aku tau hanya ada penyesalan dan duka di dalam hati sang pendosa, apakah dia, dia yang akan aku sunting? atau kah itu hanya kisahku yang telah lalu? Siapa aku? Dari mana asalku? Aku hanya seorang pekerja yang memimpikan dewi menjadi seorang kekasihnya. Sedangkan perebutan antara para petarung di colloseum bertarung untuk mendapatkannya, untuk menjadikan dia sebagai pujaan mereka. Aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan, memandang sang dewi yang terduduk di altar untuk menyaksikan para ptarung. Tak satupun perasaanya yang bisa kutebak, tak seindah apa yang kubayangkan, hanya kalbuku yang bisa menjawab. Sejenak aku benci, namun rasa itu muncul kembali. Semuanya merasuki ragaku, membuatku menjadi seekor keledai, dan harus dia ketahui, aku ini "rapuh". Merasa diriku yang tak pernah memiliki teman hidup, aku terlantar. Aku benci untuk merindukan sang keindaahan kosmik, namun itulah adanya! Oh Tuhan, apakah engkau sadar bahwa cinta telah membuat sang pecundang patah hati dan membuat keindahan para putri.
